Berita dan Kegiatan

Segarnya Hidup Tanpa Rokok

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

SURABAYA, Berbagai gerakan dan upaya mengurangi jumlah perokok terus dilakukan, namun udara ini tampaknya masih dipenuhi asap rokok yang terus mengepul.

Pergi ke mall ketemu perokok, makan di resto juga ketemu perokok. Pergi sekolah, ke kantor hingga kemanapun, selalu melihat perokok. Hampir tak satu ruangan pun yang kita tuju bebas dari kontaminasi asap rokok.

Langkah tegas pun perlu dilakukan, salah satunya membentuk kawasan pendidikan seperti kampus yang bebas rokok. Senin (7/5) di Surabaya, Asosiasi Institusi Perguruan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIPTKMI) mendeklarasikan Penerapan Kawasan pendidikan Tanpa Rokok.

"Kampus harus bebas dari hal yang berbau rokok, seperti larangan produknya masuk kampus hingga larangan kerjasama dengan industri rokok," tegas Dr. Agustin Kusumayati, ketua AIPTKMI.

Langkah ini diakui Agustin, agar peredaran rokok di kalangan kampus berkurang, bahkan perusahaan rokok tak lagi melirik ke kampus sebagai konsumen, meskipun itu hanya sekadar kerjasama sebagai sponsor kegiatan kemahasiswaan.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr. Anung Sugihantono menyebut, saat ini sudah ada 167 Perwali/Perbup, 10 Perda dan 7 Pergub yang lahir untuk mengatur kawasan tanpa asap rokok, namun masih lemah dalam hal pengawasannya, sebab hanya mengandalkan tindakan dari Satpol PP, mestinya perlu dilakukan edukasi ke masyarakat secara intens.

"Kalau kita ke bandara Medan, lebih muda mencari ruang rokok daripada toilet atau musollah, tulisan ruang rokok ini lebih besar dan terlihat jelas," keluh Anung.

Bahkan Anung menyebut, penerimaan pajak rokok terbesar saat ini ada di Jawa Timur, belum lagi penerimaan cukai bagi hasil rokoknya. Tak heran menggusur maindset rokok dari kehidupan masyarakat dan pejabat cukup sulit.

"Menaikkan harga rokok bukanlah satu-satunya jalan, tidak ada single intervention, semua harus dilakukan," terang Anung sambil mengapresiasi daerah yang mewajibkan harus berKTP saat membeli rokok.

Peredaran rokok di kalangan muda bak permen yang mudah di dapatkan. 

Dinas Kesehatan Jatim mencatat, ada klaim BPJS Kesehatan sebesar 8,1 Triliun untuk penyakit jantung dan 2 triliun untuk penyakit kanker, dua penyakit yang mucul akibat merokok. Tentunya ini akan menjadi ancaman kesehatan bagi negara, jika jumlah perokok masih tinggi.

 

AJAK PETANI TAK TANAM TEMBAKAU

Langkah berani menghilangkan rokok dari negeri ini pun dilakukan, salah satunya dengan meminimalisir ketersediaan bahan baku utama rokok, tembakau. Petani tembakau didorong untuk beralih menanam tanaman pangan lain yang lebih menguntungkan dari segi harga jual dan manfaat bagi kesehatan.

Asnawi Aziz, ketua gabungan kelompok tani Makmur Bondowoso mengatakan, selama ini petani menanam tembakau karena komoditi ini sangat tinggi harga jualnya saat cuaca mendukung.

"Kalau tembakaunya bagus  bisa Rp 35 ribu hingga Rp 45 ribu/Kg," ujarnya.

Namun harga tidak bisa menjadi jaminan, ketika cuaca tidak mendukung seperti tahun 2016 lalu, kualitas tembakau buruk dan harga jual tak sampai Rp 1000/Kg.

Asnawi sepakat jika petani perlu mengganti komoditi tanam mereka, Ia bersama 16 kelompok petani yang bergabung, mulai menanam padi dan tanaman genjer di lahan seluas 7 Ha. Petani ini beralih tanam dengan dibantu penggunaan teknologi dan pendampingan dari dinas pertanian mulai dari tanam, perawatan hingga pasca panen. Hasilnya pun bisa mengalahkan pendapatan dari tanam tembakau.

"Maindset Petani itu ingin penghasilan bagus. Harus ada terobosan tanaman pengganti tembakau yang menguntungkan. Pasti petani akan beralih tanam," jelasnya.

Asnawi menyebut, jika menanam tembakau per hektarnya bisa menghasilkan 1,5 ton, namun dengan biaya perawatan tinggi dan proses pasca panen yang lama, tentunya cuaca juga berpengaruh pada kualitas tembakau. Sementara menanam padi hibrida, per hektarnya bisa menghasilkan 10 ton, dengan perawatan ringan dan proses pasca panen yang singkat, petani bisa menikmati hasilnya. 

"Yang menguntungkan lagi tanam genjer, masa produktifitasnya 7 bulan. Setiap malam gapoktan saya bisa panen satu pick up," terang Asnawi. Genjer diikat-ikat kecil sebelum dijual, satu ikat seharga Rp 500.

Asnawi bersama kelompok tani lainnya pun bahagia, mereka tidak lagi menggantungkan hidup pada tembakau yang tak pasti, harganya kadang tinggi kadang pula sangat anjlok. Kelompok tani ini ingin hidup yang pasti, dari komoditi tanam yang pasti, dan harga jual yang pasti pula.  Jib

Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia

Organisasi profesi yang bersifat independen dan multidisipliner untuk kepentingan kesehatan masyarakat, memiliki visi untuk menjadi organisasi profesi bertaraf dunia dalam mencapai derajat kesehatan bangsa setinggi-tingginya.