Berita dan Kegiatan

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

 

Dalam sepekan, dua orang wanita Indonesia yang merupakan public figure Tanah Air berturut-turut meninggal dunia akibat kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks). Hal ini menjadi sebuah pengingat bagi kita bahwa kanker merupakan epidemi global. Kanker menjadi masalah di dunia, termasuk di Indonesia, karena jumlah penderitanya yang terus meningkat begitu pula dengan kematiannya. Kanker leher rahim dan kanker payudara merupakan dua jenis kanker tertinggi yang mengancam perempuan di Indonesia.


Selain upaya meningkatkan pengetahuan terhadap jenis dan bahaya kanker dan faktor risiko terjadinya kanker, masyarakat juga perlu memahami bahwa beberapa jenis kanker dapat dicegah melalui deteksi dini. Deteksi dini kanker leher rahim dilaksanakan dengan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan tindak lanjut dini dengan krioterapi jika ditemukan IVA positif. Sedangkan deteksi dini kanker payudara dengan metode pemeriksaan payudara secara klinis (SADANIS).

Saat ini, lebih dari 3.700 Puskesmas di seluruh Indonesia telah dilatih dalam pelayanan deteksi dini penyakit kanker payudara dan leher rahim. Sedangkan untuk pengobatan segera dilakukan di rumah sakit kabupaten/kota secara berjenjang untuk rujukan kasus kanker.

''Dengan deteksi dini, kejadian kanker dapat ditemukan lebih awal sehingga keberhasilan pengobatannya semakin besar'', ujar Kepala Biro Komunikas dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan, drg. Oscar Primadi, MPH, Sabtu siang (10/6).

Oscar juga menegaskan bahwa masyarakat, khususnya yang telah menjadi peserta jaminan kesehatan nasional (JKN), tidak perlu khawatir karena biaya promotif dan preventif berupa deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks (tes IVA) di Puskesmas sudah masuk dalam pembiayaan JKN yang dikelola oleh BPJS Kesehatan.

Selain itu,  pemerintah juga tengah mengintroduksi vaksin human papiloma virus (HPV) di siswi sekolah dasar di beberapa daerah. Vaksin HPV efektif untuk mencegah seseorang wanita terserang HPV yang akan membaeanya pada kanker serviks. Harapannya ke depan vaksin HPV tersebut bisa menjadi salah satu vaksin program nasional. 

Hal lainnya, pasien kanker harus mendapat pengobatan yang tepat dan tidak boleh melewatkan fase emas pengobatan. Namun, seringkali masyarakat yang terdiagnosis kanker pada fase awal, justru tergoda dengan iklan pengobatan alternatif yang menyesatkan yang ada di berbagai media, baik media massa maupun media sosial.

''Kita perlu mengawasi dan mengevaluasi efektifitas dan meneliti dampak lain yang ditimbulkan. Iklan yang jelas-jelas melanggar ketentuan tersebut, akan berdampak buruk dan menimbulkan kerugian, bahkan bisa membahayakan karena pasien kehilangan fase emas pengobatannya dan menjadi tidak terselamatkan'', tandasnya.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. 

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

 

JAKARTA - Tantangan utama dalam pelayanan kesehatan adalah belum meratanya distribusi sumber daya manusia kesehatan. Seperti  dokter umum, dokter gigi, perawat, perawat gigi, bidan, kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, farmasi, analis laboratorium, dan tenaga gizi.

Atas dasar itu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani mewakili pemerintah mengapresiasi penyelenggaraan Program Nusantara Sehat. Program itu diakuinya memiliki tujuan menempatkan tenaga kesehatan untuk dapat memberikan pelayanan di daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan (DTPK).

“Sampai saat ini,  telah terdistribusi tenaga kesehatan sebanyak 1.422 orang yang terbagi menjadi 251 tim dan ditempatkan di 251 Puskesmas,”ujar Puan dalam siaran persnya, Rabu (17/5/2017).

Dia menuturkan, melalui Program Nusantara Sehat para tenaga kesehatan akan dikirim secara tim (team based). Tim ini, kata dia diharapkan dapat secara cepat melakukan penyesuaian, sehingga permasalahan pelayanan kesehatan di daerah tujuan dapat cepat ditangani. 

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini juga memberikan sejumlah pesannya seperti selalu mengutamakan keselamatan dan senantiasa menjaga kesehatan serta pesan positif lainnya. Selanjutnya, seluruh peserta program Nusantara yang akan tergabung dalam 60 tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu ini akan ditempatkan di 60 Puskesmas yang tersebar di seluruh Indonesia. 

"Tugas Tim Nusantara Sehat ini adalah tugas yang sangat mulia. Saya menaruh harapan dan penghormatan yang besar terhadap para peserta yang bergabung dalam Program Nusantara Sehat agar dapat berkonstribusi secara nyata di tempat penempatannya," ucapnya.

Peryataan ini juga disampaikan Puan dalam upacara Penutupan dan Pelantikan Tim Nusantara Sehat Batch VI di Pusdikkes kodiklat TNI AD, Kramat Jati, Jakarta Timur, kemarin. 

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

 Sehat adalah salah satu sendi dasar kehidupan manusia. Di sisi lain, setiap orang punya hak dan juga tanggung jawab untuk hidup sehat.

Dari sudut pemerintah kini, konsep Nawa Cita secara jelas menyebutkan untuk "meningkatkan kualitas hidup manusia", di mana kesehatan tentu merupakan salah satu komponen utamanya.

 

 

Jika kita lihat Indeks Pembangunan Manusia, Indonesia di posisi 108 dari 187 negara. Penilaian IPM, berdasarkan lama sekolah yang saat ini Indonesia mempunyai lama sekolah 8,14 tahun.

Untuk kesehatan dikarenakan telah dimulai Universal Health Coverage, peringkat Indonesia meningkat dan penilaian ketiga adalah ekonomi yang menjadi tantangan tersendiri bagi dunia kesehatan.

Dengan diberlakukannya Jaminan Kesehatan Nasional awal tahun 2014, bagi masyarakat tak mampu mendapatkan bayar iuran dari pemerintah (Penerima Bantuan Iuran = PBI), sebanyak 86,4 juta dari data 90,7 juta orang tak mampu dan dengan diberlakukannya Kartu Indonesia Sehat (KIS), Penyandang Masyarakat Kesejahteraan Sosial, ditambah bayi baru lahir dan penderita pascarehabilitasi narkoba masuk sebagai PBI menjadi meningkat.

Asuransi kesehatan dimulai dengan Askes bagi pegawai negeri sipil, dan Askes saat itu sebagai BUMN dengan mengembalikan dana kepada pemerintah jika premi tak terpakai dan juga melaksanakan pengadaan obat-obatan bagi PNS yang berobat.

Inti dari kesemua ini tak hanya masyarakat, PNS, tentara dan buruh, tetapi seluruh masyarakat seharusnya mempunyai asuransi kesehatan sebagai payung saat jatuh sakit dapat mempunyai akses ke layanan kesehatan.

 

Bagi masyarakat mampu, tetap dapat membeli asuransi kesehatan swasta (private insurance) dengan membayar sejumlah premi sesuai dengan keinginan cakupan asuransinya.

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Ketua terpilih pada MUSDA (Musyawarah Daerah) IAKMI DKI Jakarta, Baequni, SKM, M.Kes, Ph.D, menyatakan ingin menjadikan IAKMI DKI Jakarta sebagai motor penggerak program promotif dan preventif di DKI Jakarta. Hal tersebut disampaikannya di sela-sela kegiatan MUSDA IAKMI DKI Jakarta yang dilaksanakan di gedung Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

Doktor lulusan Osaka University-Japan tersebut juga menyebutkan ingin mewujudkan visi diatas melalui; (1) pendataan dan pemetaan tenaga kesehatan masyarakat yang ada di DKI Jakarta, (2) menciptakan tenaga kesehatan yang bermutu melalui training dan seminar-seminar bekerja sama dengan Perguruan Tinggi kesehatan dan LSM yang ada di Jakarta, serta (3) menciptakan peluang kerjasama dengan berbagai organisasi pemerintah dan swasta baik dalam maupun luar negeri dalam melakukan kegiatan promotif dan preventif di DKI Jakarta.

Kegiatan MUSDA IAKMI DKI Jakarta yang dilakukan pada Sabtu, 8 Oktober 2016 lalu dihadiri oleh berbagai kalangan ahli kesehatan masyarakat baik akademisi, praktisi sertaunsur pemerintah baik daerah maupun pusat. Hadir juga dalam kesempatan tersebut, Pengurus Pusat IAKMI yang diwakilkan oleh Husein Habsyi, SKM, MHComm.

Dalam kegiatan MUSDA tersebut juga muncul berbagai rekomendasi yang akan dilaksanakan oleh Pengurus Daerah IAKMI DKI Jakarta seperti mengawal kegiatan Jaminan Kesehatan Nasional, mendukung program ketuk pintu sepenuh hati yang dilaksanakan oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta, mendukung program PHBS di Jakarta, mendukung program Ruang Publik Terpadu Ramah Anak, mendukung program pencegahan DBD, pengembangan kelurahan binaan serta mendukung Kawasan Tanpa Rokok.

Ketua terpilih juga berharap dapat menjadikan IAKMI DKI Jakarta sebagai “Rainbow Bridge” yang jembatani kerjasama promotif dan preventif dengan mengedepankan kebersamaan antara berbagai profesi kesehatan dalam mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Forum Ilmiah Tahunan (FIT) ke-1 Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) telah berlangsung pada tangal 22-23 Oktober 2015 di Bandung, Jawa Barat. Mengingat tingginya respons para tenaga kesehatan masyarakat se-Indonesia dalam mengkaji issue aktual serta mempublikasikan hasil-hasil penelitian di bidang kesehatan masyarakat, maka mulai tahun 2015 ini IAKMI bermaksud untuk mengadakan FIT yang akan berlangsung satu kali dalam satu tahun.

 Forum perdana ini menjadi sangat istimewa karena bersamaan pelaksanaannya dengan kegiatan The 47th Asia Pacific Academic Consortium for Public Health (APACPH) Conference yang dikoordinir oleh Fakutas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang diikuti sekitar 800 peserta dari berbagai negara. Sedangkan peserta FIT berjumlah 250 orang akademisi, pemerintah, serta dunia usaha.

Pada pembukaan FIT, disampaikan sambutan dr. Agustin Kusumayati, MSc, PhD sebagai Chair of the 47 th APACH Conference, Drs. Bambang Wispriyono, Apt., PhD (Ketua Asosiasi Institusi Perguruan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia / AIPTKMI), serta dr. Adang Bachtiar, MPH, ScD (Ketua Umum IAKMI Pusat). Dalam beberapa tahun belakangan ini, sebagai bagian dari upaya mempersiapkan diri menghadapi pasar bebas, Profesi Kesehatan Masyarakat di Indonesia mengembangkan beberapa instrumen penjaminan dan peningkatan mutu.

Instrumen yang sudah dikembangkan bersama antara lain formulasi kompetensi berbagai jenjang keahlian Kesehatan Masyarakat (merujuk pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia), standardisasi proses pendidikan melalui Akreditasi Program Studi Kesehatan Masyarakat, dan standardisasi mutu Tenaga Ahli Kesehatan Masyarakat melalui Uji Kompetensi dan Pendidikan Kesehatan Masyarakat Berkelanjutan. FIT dirancang sebagai salah satu bentuk Pendidikan Kesehatan Masyarakat Berkelanjutan.

Besar harapan dengan berbagai upaya penjaminan dan peningkatan mutu tersebut para Ahli Kesehatan Masyarakat di Indonesia dapat memberikan sumbangsih terbaiknya bagi masyarakat Indonesia maupun bagi masyarakat global. Seluruh peserta FIT juga mengikuti key-note speech dari Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM yang menekankan pentingnya peran sarjana kesehatan masyarakat untuk mendukung upaya preventif dan promotif bidang kesehatan nasional, seperti program Nusantara Sehat.

Tema utama yang diangkat dalam FIT kali ini adalah “Innovation and Breakthrough in Public Health Effort toward Healthy Life Style”. Tema ini menegaskan semangat dan ciri ahli kesehatan masyarakat yang harus selalu berinovasi dalam beragam aktivitasnya untuk membentuk perilaku masyarakat yang sehat. Sebanyak 55 makalah bebas serta 100 poster hasil penelitian dipresentasikan oleh para ahli kesmas dan praktisi program dari berbagai penjuru nusantara.

Selama dua hari, berlangsung 4 buah simposium. Simposium 1 bertema “Inovasi untuk Kesehatan Bangsa” dengan menampilkan pembicara : Drg. Usman Sumantri, MSc (Kepala Badan PPSDM), Dr. dr.Fachmi Idris, MKes (Direktur Utama BPJS Kesehatan), Dr. Surya Chandra Surapaty, MPH, PhD (Kepala BKKBN), Dede Yusuf, ST, MSi (Ketua Komisi IX DPR-RI), serta Dr. dr. Trihono, M.Sc (Ketua Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia). Simposium 2 bertema “Situasi dan Upaya Pengendalian Tembakau” dengan menampilkan pembicara Dr. Kartono Mohamad (Director of TCSC IAKMI), dr. Lily S. Sulistyowati, MM (Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI), Dr. Farrukh Qureshi (Tobacco Free Initiative, WHO Indonesia), serta I Made Kerta Duana, SKM, MPH (PSKM UNUD/Ketua IAKMI Pengda Bali).

Simposium 3 bertema Antisipasi Kenaikan Anggaran Kesehatan Tahun 2016 dengan menampilkan pembicara Dr. Drg. Theresia Ronny Andayani, MPH (Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas), Dr. Untung Suseno Sutarjo, MKes (Sekretaris Jenderal Kemenkes RI), serta Prof. Dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD (PKMK FK UGM / Ketua IAKMI Prov DI Yogyakarta). Sedangkan Simposium yang bertema Program Berwawasan Kesehatan dan Peran Tenaga Kesehatan Masyarakat menampilkan pembicara Dr. Ir. Andreas Suhono, MSc (Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) dr. Hanibal Hamidi, MKes (Direktur Pelayanan Sosial Dasar, Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi RI), serta Nizwardi Azkha, SKM, MPPM, MPd, MSi (Ketua IAKMI Pengda Sumbar).

Sebagai salah satu wujud kemajuan profesi, dalam FIT kali ini secara diresmi diluncurkan Jurnal Majalah Kesehatan Masyarakat, Website IAKMI yang akan siap menampung pendaftaran anggota dan event ilmiah nasional secara online, dan juga progress Kartu Tanda Anggota IAKMI yang saat ini anggota terdaftar sudah lebih dari 20.000 orang.

FIT ke-2 akan berlangsung pada bulan Oktober 2016, bersamaan dengan pelaksanaan Kongres Nasional ke-13 IAKMI di Makassar, Sulawesi Selatan. Salam Miracle, fit 4us, fit 4all. [Husein Habsyi, Ketua Panitia Pelaksana]

Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia

Organisasi profesi yang bersifat independen dan multidisipliner untuk kepentingan kesehatan masyarakat, memiliki visi untuk menjadi organisasi profesi bertaraf dunia dalam mencapai derajat kesehatan bangsa setinggi-tingginya.